Hative Besar

Het dorp Hative ligt op het eiland Ambon in de Molukken Indonesië.
Heeft ± 3660 inwoners.
Is 3240 hectare breed en ± 6 km lang, grenst aan de dorpen Waijame – Wakal – Hila – Tamiri – Baai van Ambon.
Negeri Haviwe is ingedeeld in 6 wijken:
Lata – Batu Lubang – Maisisi – Wailaä – Sahuru – Wailete.

Hative heeft o.a.:
  • 2 kerkgebouwen kerk Lahairoi en Getsemani
  • kantoor Negeri.
  • baileo
  • basisscholen SD1- SD2
  • 2 middelbare scholen
Familienamen:
  • Helaha
  • Latumeten
  • Lawansuka
  • Leapary
  • Makahina
  • Manusama
  • Matitatiwen
  • Nunumeten
  • Rehata Palijama
  • Rehata
  • Risteru
  • Sapia
  • Sopamena
  • Siyatauw
  • Talahaturuson
  • Tuhuleru
  • Uspessy
  • Warella
  • Wattimena

De geschiedenis over Pela tussen Hative Besar en Haria

Lang geleden woedde op het schiereiland Leitimur een verschikkelijke (beangstigende) oorlog tussen twee dorpen Soya en Hative Kecil.
De oorlog is ontstaan doordat een mogare (jongeman) uit Soya genaamd Rehatta een jujaro (jong meisje) uit Hative Kecil genaamd Muriani schaakte.
Het gevolg van dit gebeuren is een oorlog tussen de twee dorpen.
Als wapen gebruikte Hative Kecil mata kail cekalang (vishaak voor het vissen van tonijn) een lijn met een vishaak bevestigd aan een bamboestok (huhate).
Soya gebruikte als wapen duri rotan (stekels van rotanplant) bevestigd aan een bamboestok. (Men gebruikt dit op Ambon om kleine vleermuizen te vangen).
Het wapen van Soya is heel gevaarlijk voor de troepen van Hative Kecil, waar tijdens de strijd bij Hative Kecil veel slachtoffers vielen. De plaats waar de slachtoffers vielen was Air Tantui waar veel bloed vloeide.
Door de gewelddadige strijd namen twee soa’s (stammen) van Hative Kecil de wijk naar Rumah Tiga en vervolgens naar Hative Besar en vestigden zich daar.
Doordat de oorlog gestadig plaats vond, voelde Hative Kecil zich teleurgesteld en hopeloos en ging naar het dorp Haria om hulp te vragen aan de voorman van Haria (kapitan Haria) en zijn troepen. Zij waren bereid Hative Kecil te helpen.
Tijdens de oversteek werd langs magische wijze (mawe – mawe) onderzocht wat hun te wachten stond, het resultaat was dat wanneer zij aan land kwamen bij Passo, ze dan werden aangevallen door de kapitan van Soya en zijn troepen. Tenslotte veranderden zij hun route en gingen langs de dorpen Waai en Liang rondom de kaap, tanjung Alang, richting Haitive Kecil.
Maar tijdens de tocht naar Hative Kecil raakte de proviand op en werden ze gedwongen het dorp Lilibooy aan te doen om hulp te vragen en ze werden uiteraard geholpen door het dorp Lilibooy.
Voordat ze het dorp verlieten, werd eerst het pelaverbond gesloten met het dorp Lilibooy.
Tot op heden is het pelaverbond gebleven. Daarna vervolgden zij hun tocht langs de kust, ondertussen was de proviand weer op en werden ze gedwongen om het dorp Hative Besar aan te doen om hulp te vragen. De dorpelingen van Hative Besar boden hun hulp in welke vorm dan ook aan. Omdat de hulp van Hative Besar van groot belang was voor de strijd tegen de troepen van Soya, werd voor het vertrek het pel verbond gesloten in de vorm van broederschap met het dorp Hative Besar.

De plaats waar het pelaverbond gesloten werd, was Tanjung Batukubur. Op een steen werd een aardenwerk schaal (sempe) gelegd met drank (arak) er in. ( arak = alcohol houdende drank).
Kapitan Haria en zijn troepen en de Kapitan van Upu Latu kwamen naar elkaar toe en ook alle belanghebbenden van het dorp Hative Besar. Samen beklommen zij de Batukubur, waar de drank met verschillende scherpe voorwerpen er in klaar stond.
Nadat ze hun vinger geprikt hadden met een doorn zodat er bloed uitkwam, dompelden ze de top van hun vinger in de drank. Het dorp Hative en Upu Latu en troepen van Haria en hun leider hadden een belofte gedaan. Dit verbond mag niet worden verbroken door de nakomelingen. Zolang de wereld bestaat mogen er geen huwelijken worden gesloten tussen de twee dorpelingen. Wie deze adat (traditie) niet nakomt, riskeert zijn/haar leven.
Tenslotte werd deze plaats waar de ceremonie plaats vond Tanjung Batukubur genoemd.
De twee dorpen maakten zich gereed om naar Hative Kecil te vertrekken. Maar voordat ze daar waren, was de strijd al gestreden tussen Soya en Hative Kecil.
Als blijk van vrede gaf Soya, hun bron van inkomsten: de bia Asuseng (vergelijkbaar met mosselbanken), bij de ankerplaats van Hunupupu, terwijl Hative Kecil hun bron van inkomsten: de Damar bossen ( harsproducerende boom) aan Soya gaf.

Alsdus de geschiedenis van Haria en Hative Besar in het pela verbondschap .dat vermeld staat als pela Batukarang welke gerealiseerd werd op de rotsen van Tanjung Batukubur bij Hative Besar.

(Verteld door S. Nunumete ex pemerintah Hative Besar)

Hative Besar

Letaknya negeri Hative Besar di pulau Ambon di Maluku, Indonesia.
Penduduknya sekitar 3.660 orang.
Luasnya wilayah: lebarnya 3240 ha., panjangnya sekitar 6 kilometer. Pembatasannya dengan negeri-negeri Wayame, Wakal, Hila, Tawiri dan teluk Ambon.

Negeri Hative terdiri dari 6 soa’s: Latta, Batu Lubang, Maisisi, Wailaä, Sahuru, Wailete.

Antara lain, Hative mempunyai:
  • 2 rumah ibadah : gereja Lahairoi dan Getsemani
  • kantor Negeri
  • baileo
  • sekolah dasar: SD1 dan SD2
  • 2 sekolah menengah
Nama-nama keluarga:
  • Helaha
  • Latumeten
  • Lawansuka
  • Matitahatiwen
  • Nunumete
  • Rehata
  • Palijama
  • Manusama
  • Risteru
  • Sopamena
  • Siyatauw
  • Talahaturuson
  • Uspessy
  • Warella
  • Wattimena

Sejarah pela antara Hative Besar dan Haria.

Pada zaman dahulu kala telah terjadi peperangan jang sangat dahsyat antara dua negeri di jaziah Leitimur yaitu antara negeri Soya dan negeri Hative Kecil. Prerangan ini terjadi karena mongare Saya yang bernama Rehatta membawa lari jujaro Hative Kecil yang bernama Muriani.
Akibat peristawa ini, maka terjadilah peperangan antara kedua negeri ini, dimana sebagia, alat senjata yang dipakai oleh negeri Hative Kecil adalah mata kail cakalang dengan talinya yang diikat pda sebuah bambu (yang biasa dipakai-oleh kita di Ambon untuk menangkap kelelawar).
Senjata dari negeri Soya ini sangat berbahaya bagi pasukan dari negeri Hative Kecil, dimana dalam pertempuran itu negeri Hative Kecil banyank yang mengelami korban adalah di air Tantui yang banyank megalirkan darah. Akibat hebatnya pertempuran itu maka dua soa dari negeri Hative Kecil banyak melarikan diri ke Rumah Tiga dan terus ke negeri Hative Besar dan menetap disana.
Karena perperangan ini terus berlangsung maka, negeri Hative Kecil merasa kecewa dan putus asah, maka terpaksa mereka ke negeri Haria untuk minta bantuan dari kapitan Haria dan pasukannya dimana mereka dengan rela mau membantu negeri Hative Kecil. Disini kapitan Haria dan pasukannya telah siap untuk berangkat menyeberang lautan untuk ke teluk Baguala (Passo), untuk membantu negeri Hative Kecil, tapi dalam perjalanan itu maka mereka telah mencari tahu (Mawe-Mawe) dan alhasil dare mawe tadi mengatakan bahwa apabila mereka menyeberang dan singgah di Passo maka mereka akan diserbu oleh kapitan soya dan pasukannya, akhirnya mereka mengalihkan perjalannanya melalui negeri Waai dan Liang untuk terus melalui tanjung Alang dan kemudian ke negeri Hative Kecil. Tetapi dalam perjalanannya menuju Hative Kecil maka perbakalan mereka habis dan terpaksa singgah di negeri Lilibooy untuk meminta bantuan dan dengan rela penduduk negeri Lilibooy membatunya, tetapi sebulum pulang mereka telah mengangkat pela dengan negeri Lilibooy, yang mana hubungan pela ini terus sampai sekarang masih ada hubungannya.
Sesudah itu mereka berangkat untuk menuju Hative Kecil dengan melalui pesisir pantai, tetapi perbakalan mereka juga habis dan terpaksa mereka singgah di negeri Hative Besar untuk minta bantuan. Masyarakat negeri Hative Besar dengan rela hati bersedia untuk membatunya dalam bentuk apa saja, untuk itu karena bantuan yang diberikan oleh penduduk negeri Hative Besar ini sangat berfaedah untuk menghadapi pasukan Soya, maka sebelum berangkat mereka telah mengangkat pela sebagai orang bersaudara dengan negeri Hative Besar.
Tempat yang menjadi terbentuknya pela adalah Tanjung Batukubur diatas sebua batu yang telah disediakan sebuah sempe yang berisi minumman (arak), dimana kapitan Haria dengan pasukannya bersama kapitan dari Upu Latu telah menyentuh dan termasuk pula semua yang berkepentingan dalam negeri Hative Besar, bersama-sama naik keatas Batukubur dimana minumannya dengan berbagai barang tajam telah diisi/ditaruh didalam sempe tadi, kemudian bersama-sama memasukan ujung jarinya yang telah ditusuk duri agar darah masing-masingnya keluar kemudian decelup dalam minuman tadi antara kedua negeri ini, yaitu: negeri Hative Besar dengan Upu Latu dan semua pasukan dari negeri Haria dengan pimpinannya kemudian mereka berjanji bahwa; tidak boleh dirombak oleh turun temurun yaitu; selama dunia ini masih ada tidak diperbolehkan terjadi perkawinan antara kedua negeri ini, dan siapa yang melanggar titah ini akan masuk ke kubur. Akibatnya tanjung ini dinamakan tanjung Batukubur, dan juga dari kedua negeri ini dapat saling membantu dalam bentuk apa saja.
Sesudah pejanjian ini selesain (Pela) maka mereka sudah siap untuk ke Hative Kecil, tetapi sebelum mereka tiba disana maka pertempuran telah selesai/berakhir antara Soya dan Hative Kecil.
Sebagai tanda untuk perdamaian itu maka negeri Soya telah menyarahkan Bia Asusengnya yang terdapat pada pelahbuhan Hinipupu sebagai penhasilannya, sedangkan negeri Hative Kecil menyerahkan hutan damarnya sebagai penghasilan mereka pada negeri Soya.

Demikianlah sejarah Haria dan Hative Besar dalam hubungan pela yang disebut sebagai pela Batukarang yang dilaksanakan diatas batukarang di tanjung Batukubur yang terdapat di negeri Hatiwe Besar.

(Sejarah dari S. Nunumete ex pemerintah Hative Besar).